December 3, 2008

Kanker Tidak Berbahaya lagi? (sumber box email)

Semoga bermanfaat ....
> Dear Rekan rekan
> Semoga bermanfaat
>
> JIKA ANDA MAU BERBAIK HATI TERHADAP SESAMA....
> TOLONG SEBARKAN INFORMASI INI...
>
> Penyakit Kanker
> Sudah Tidak Berbahaya Lagi
>
>
> Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
> memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
> "KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman
> obat
> yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan
> berbagai
> penyakit berat lain.
>
> Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya
> tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini
> sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang
> pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia .
>
> Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris
> K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti
> Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga
> perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan
> pasien
> dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, Singapura,
> dan
> berbagai negara di dunia.
>
> Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan,
> Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker
> payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker
> ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus
> menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk
> menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.
> "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig
> (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan
> kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,"
> jelas
> Patoppoi.
>
> Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
> mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan
> informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati
> kanker.
> "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeli teh
> tersebut,"
> ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko
> obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku
> mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr
> Chris K.H. Teo terbitan 1996.
> "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu
> menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi,
> tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di
> buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
>
> Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen
> Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman
> tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat,
> familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata,
> mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman
> tersebut
> dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di
> Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
>
> Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa
> tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak
> ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya,
> dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses
> tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk
> diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni
> Patoppoi
> di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah
> melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai
> depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di
> pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.
>
> Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami
> penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti
> rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu
> saya pun kembali normal," lanjut Boni.
>
> Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani
> pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh
> mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Para
> dokter
> itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada
> isterinya..
> "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi
> kepada kami," lanjut Patoppoi.
>
> Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun
> mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar
> mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami
> efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan
> pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan
> sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau
> mendukung
> secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,"
> sambung Boni sambil tertawa.
>
> Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
> isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi
> Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak
> terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman
> ini di Indonesia. Kemudian Dr . Teo langsung membalas fax kami, tetapi
> mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,"
> sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka
> diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr.
> Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi
> dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.
>
> Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
> meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi
> sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan,
> pengobatan
> yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman
> pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan
> eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.
> "Lalu
> saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni.
> Dan
> tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa
> sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300
> orang
> yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani,
> Buduran Sidoarjo.
>
> Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium
> dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi..
> Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku
> dijual
> untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.
> Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien
> tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi,
> karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
>
> Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha
> untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur
> Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno,
> Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat
> Cancer
> Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut
>
> mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia .
> Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi
> revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut,
> serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari
> pembicaraan mereka, Dr.. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan
> perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi,
> Patoppoi
> dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care
> Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu
> di
>
> Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745,
> dan di Buduran, Sidoarjo.
>
> Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara
> lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk
> pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya
> dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang
> diderita," kata Boni.
>
> Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang
> menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke
> Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan.
> Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus
> obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit
> Malaysia ," lanjut Boni. " Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat,
> kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo
> bisa
> memberikan perpanjangan waktu pembayaran. " tambahnya.
>
> Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu
> dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker
> ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat
> sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabayaini. Pasien
> pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan
> keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah
> memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien
> tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu
> muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini
> menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu
> proses penyembuhan kemoterapi.
>
> Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita
> pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini
> menolak
> untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di
> Indonesia . Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai
> pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun"
> atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan
> konvensional dan modern," kata dokter tersebut.
>
> Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan
> bantuan
> kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan
> sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat
> kanker
> paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III,
> pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup
> mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun
> narkoba
> dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
> tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi
> tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
> resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung
> Boni sambil tertawa.
>
> Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan
> kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak
> mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat
> kemudian
> pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.
>
> Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah
> disembuhkan
> adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker
> payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher
> rahim,
> tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas,
> dan hepatitis.
>
> Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit
> Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.
> Bagi
> teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan
> artikel
> "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial:
>
> "Cancer Care Indonesia "
> beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta ,
> telp : 021-4894745

gabriel.gramedia@gmail.com

1 comment: